,

Wagub Djarot: Jakarta Darurat Sampah Plastik

Jakarta, CNN Indonesia — Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan saat ini akumulasi sampah plastik di Jakarta sudah memasuki tahap darurat dan perlu diwaspadai. Djarot mengatakan saat ini terdapat 770 ton sampah plastik atau 11 persen dari 7.000 ton sampah yang ada di Jakarta.

“Ini sudah darurat. Kalau kita ke sungai yang ada di Jakarta sampai ke laut itu plastik semua dan dia akan terurai 500-1000 tahun mendatang. Makanya kita harus keras dan tidak perlu main-main lagi,” ujar Djarot ditemui usai menghadiri Deklarasi Indonesia Bebas Sampah 2020 di area Car Free Day, Bundaran HI, Minggu (21/2).

Djarot mengatakan jumlah sampah plastik tersebut rata-rata disumbang oleh pasar tradisional dan pasar ritel yang memang menggunakan plastik sebagai fasilitas dalam aktivitas perdagangan.

Guna mengurangi dampak negatif dari penumpukan sampah plastik menurutnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberlakukan tarif tinggi bagi setiap penggunaan kantung plastik pada saat berbelanja. Untuk pasar ritel modern, Pemprov DKI berencana membuat aturan pengenaan harga sebesar Rp 5000 untuk setiap satu kantung plastik.

Sementara untuk pasar tradisional, Pemprov masih memberikan keringanan harga yakni Rp 500 per kantung plastik. Namun ia meyakinkan harga tersebut akan merangkak naik seiring gencarnya sosialisasi anti penggunaan kantung plastik.

“Kita sudah uji coba di pasar Kramat Jati, yang paling besar saja. Saya sudah bilang sama direksinya, untuk uji coba di pasar. Terutama yang besar-besar. Produksi sampah paling banyak itu ada di pasar induk, salah satunya di Kramat Jati,” ungkap Djarot.

Sampah masih jadi persoalan besar di Indonesia. Tak hanya masalah pengelolaan atau penyakit yang mungkin ditimbulkannya, tapi juga masalah perilaku masyarakat yang masih saja membuang sampah sembarangan.

Pada kesempatan yang sama, Syir Asih Amanati, perwakilan Relawan `Bergerak untuk Indonesia #BebasSampah2020` mengatakan dalam sebuah penelitian yang dilakukan Jenna R. Jambeck dari Universitas Georgia pada 1 Juni 2015, menyatakan Indonesa kini berada dalam peringkat kedua dunia sebagai penyumbang sampah plastik ke laut.

Untuk itu 801 komunitas dari 155 kota/kabupaten di 34 provinsi bergerak bersama membersihkan sampah dalam Kerja Bakti Nasional pada Minggu, 21 Februari 2016.

Gerakan ini dimotori sekumpulan relawan muda yang berinisiatif dan berhasil merangkul pemuda lain dari Aceh sampai Papua untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020.

“Ini sungguh sebuah sejarah kebangkitan kepedulian akan isu persampahan. Kami yakin dengan kerja sama dari seluruh pihak, maka Indonesia Bebas Sampah 2020, bukanlah sesuatu hal yang mustahil untuk diwujudkan,” ungkap Syir. (tyo)

Artikel di atas dapat dibaca di sini

Bagikan

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza has led Diet Plastik Indonesia, and co-founded it, since 2013. She feels grateful that the environmental law knowledge she learned in college can be used to make changes. In her spare time, Tiza enjoys making doll houses out of cardboard for her children and doing water sports. Tiza is an alumna of the Faculty of Law, University of Indonesia (2002) and Harvard Law School (2010).

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza memimpin Dietplastik Indonesa, dan turut mendirikannya, sejak 2013. Ia merasa bersyukur ilmu hukum lingkungan yang dipelajarinya ketika kuliah dapat digunakan untuk membuat perubahan. Pada waktu senggang, Tiza senang membuat rumah boneka dari kardus untuk anak-anaknya dan melakukan olahraga air. Tiza adalah alumna Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2002) dan Harvard Law School (2010).