Mendorong E-Commerce Bergerak Aktif Mewujudkan Larangan Plastik Sekali Pakai

Jakarta, 23 Juli 2021. Sebanyak lebih dari 100 kolaborator yang tergabung dalam Pawai Bebas Plastik 2021 mendorong pelaku usaha perdagangan elektronik (e-commerce) dan wadah belanja daring (marketplace) untuk benar-benar mewujudkan gaya hidup tanpa plastik sekali pakai di tengah masyarakat. Pasalnya, frekuensi berbelanja secara daring kini semakin tinggi, sebagai salah satu dampak pandemi Covid-19. 

“Kami sejujurnya sangat berterimakasih atas layanan e-commerce delivery yang sangat membantu berjalannya program di berbagai daerah di masa pandemi. Namun opsi pengemasan yang bebas dari plastik sekali pakai belum disediakan secara masif sehingga membuat kami terpaksa tidak bisa menjaga laut dari rumah,” kata Swietenia Puspa dari Divers Clean Action.

Berdasarkan studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun lalu, sampah plastik dari belanja online meningkat sebesar 96% selama masa pandemi Covid-19 selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal itu bisa terjadi karena adanya peningkatan transaksi sebesar 62% pada sektor marketplace dan 47% pada sektor jasa antar makanan. 

“Opsi untuk meminta tidak menggunakan plastik sekali pakai dalam belanja daring adalah salah satu solusi mengurangi plastik sekali pakai. Pelaku e-commerce harus menjadi yang terdepan dalam menyediakan dan mendukung upaya ini untuk membantu dalam mencegah kerusakan lingkungan, terutama pada masa pandemi,ucap Bustar Maitar selaku CEO Yayasan Econusa.

Oleh karena itu, Pawai Bebas Plastik tahun ini berfokus untuk mendorong penurunan konsumsi plastik sekali pakai khusus pada aktivitas perdagangan elektronik. Surat terbuka pun akan dikirimkan kepada delapan (8) pemimpin perusahaan e-commerce. [1] Isi surat tersebut meminta perusahaan untuk mengambil tindakan-tindakan sebagai berikut:

  1. Memberikan opsi kepada konsumen untuk memilih (a) kemasan minim plastik sekali pakai, dan/atau (b) ekspedisi ramah lingkungan, sehingga konsumen diberi kesempatan untuk bisa meminimalisasi dampak lingkungan dari belanja online.
  2. Memberikan pelatihan kepada mitra merchant, mitra driver, dan mitra kurir agar bisa mengemas barang dengan cara yang minim plastik sekali pakai.

“Sebenarnya solusi sudah tersedia untuk menggantikan pengemasan plastik dan styrofoam, dengan tetap menjaga keamanan dan sanitasi barang. Ada e-commerce yang pada laman check-outnya memberi opsi “tanpa plastik” ataupun pengembalian kemasan. Bayangkan kalau semua brands e-commerce besar di Indonesia memberikan opsi-opsi seperti ini kepada konsumen, pasti dampak baiknya akan terasa,” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik.

Produsen harus semakin menyadari bahwa tingkat kesadaran di masyarakat untuk menghindari penggunaan plastik sekali pakai semakin meningkat. Berdasarkan studi Greenpeace Indonesia dalam laporan bertajuk ‘Bumi Tanpa Plastik’, sekitar 75% responden (dari total 623 responden) setuju untuk mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan plastik sekali pakai untuk kemasan. Hanya 20% yang menganggap kemasan plastik sekali pakai tidak berbahaya. Sebagian besar responden pun menaruh ekspektasi pada produsen yang memiliki sumber daya untuk memberikan alternatif pengemasan kepada konsumen atau masyarakat. 

“Kini saatnya pelaku usaha merealisasikan tanggung jawabnya sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen. Surat terbuka ini menjadi penting karena para pelaku e-commerce belum termasuk ke dalam sektor industri yang diminta oleh pemerintah untuk menyusun rencana pengurangan sampahnya sesuai dengan ketentuan tersebut,” tutur Muharram Atha Rasyadi selaku Jurukampanye Urban Greenpeace Indonesia.

Menurut data KLHK, hingga Juni 2021, baru 23 produsen yang telah menyerahkan rencana peta jalan pengurangan sampahnya ke Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK). Padahal Permen LHK No. P.75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, menargetkan jumlah sampah oleh produsen wajib dikurangi sebesar 30% pada tahun 2029. 

“Jumlah produsen yang telah menyerahkan peta jalannya masih sangat kecil, padahal krisis sampah plastik sudah mencapai level yang sangat merusak lingkungan dan ekosistem masyarakat. Seiring dengan semakin terbangunnya kesadaran masyarakat, produsen pun harus berubah secara signifikan dengan menyediakan model pengemasan dan pengantaran  alternatif yang bebas dari plastik sekali pakai,” ucap Tubagus Soleh Ahmadi, selalu Direktur Eksekutif Daerah Walhi DKI Jakarta.

Pawai Bebas Plastik di tahun 2021 diharapkan dapat menjaring lebih banyak dukungan masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses perubahan sosial demi menjaga lingkungan hidup kita dari bencana yang disebabkan oleh manusia.

“Meski di tengah pandemi, kami melihat semangat kerelawanan terus tumbuh. Pawai Bebas Plastik ini menjadi salah satu contohnya. Gerakan yang didukung oleh lebih dari seratus organisasi dan komunitas ini pasti bisa menghasilkan dampak yang positif,” kata Marsya Nurmaranti selaku Direktur Eksekutif Indorelawan.

 

*** 

 

Catatan:

[1] Surat terbuka ditujukan kepada: CEO Tokopedia, William Tanuwijaya; CEO Shopee Indonesia, Chris Feng; CEO Bukalapak, Muhammad Rachmat Kaimuddin; CEO Lazada Indonesia, Chun Li; CEO Blibli.com, Kusumo Martanto; CEO Zalora Indonesia, Anthony Fung; Co-CEO Gojek, Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi; President Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata

 

Kontak media: 

  1. Swietenia Puspa, Divers Clean Action swietenia@diverscleanaction.org
  2. Sumardi Ariansyah, Econusa aree@econusa.id 
  3. Tiza Mafira, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik tiza@dietkantongplastik.info 
  4. Muharram Atha Rasyadi, Greenpeace Indonesia mrasyadi@greenpeace.org 
  5. Tubagus Soleh Ahmadi, WALHI Jakarta tubagus.walhijakarta@gmail.com 

 

Tentang Pawai Bebas Plastik

Pawai Bebas Plastik yang digagas pada tahun 2019 oleh Divers Clean Action, Econusa, Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, Greenpeace Indonesia, Indorelawan, Pandu Laut Nusantara, Pulau Plastik, dan Walhi Jakarta, untuk mendorong tercapainya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia. 

 

Bagikan

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza has led Diet Plastik Indonesia, and co-founded it, since 2013. She feels grateful that the environmental law knowledge she learned in college can be used to make changes. In her spare time, Tiza enjoys making doll houses out of cardboard for her children and doing water sports. Tiza is an alumna of the Faculty of Law, University of Indonesia (2002) and Harvard Law School (2010).

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza memimpin Dietplastik Indonesa, dan turut mendirikannya, sejak 2013. Ia merasa bersyukur ilmu hukum lingkungan yang dipelajarinya ketika kuliah dapat digunakan untuk membuat perubahan. Pada waktu senggang, Tiza senang membuat rumah boneka dari kardus untuk anak-anaknya dan melakukan olahraga air. Tiza adalah alumna Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2002) dan Harvard Law School (2010).