,

Kantong Plastik Berbayar dan Solusi Lainnya

Orang-orang pada ributin kantong plastik berbayar,,, 200 perak, murah amat! Ahok bilang pipis di Jakarta aja harus bayar 2000 perak (di Makassar masih 1500 koh),,, bakal gak ngefek nih,,, yang berduit boleh beli 25 kantong plastik sekali belanja, kan cuma 5000 perak? Terus, apa program ini dibatalin aja? Apalagi Walikota Solo juga gak setuju kantong plastik berbayar (baca dihttp://regional.kompas.com/read/2016/02/21/17484971/Wali.Kota.Solo.Tolak.Kantong.Plastik.Berbayar).

Sebenarnya masih banyak solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi sampah plastik. Tapi entah kenapa solusi kantong plastik berbayar yang disetujui. Mungkin karena ada nilai rupiahnya? Entahlah,,,

Di Amerika dan Eropa sudah sejKantong Belanja Kertasak lama toko retail di sana menggunakan paper bag (kantong kertas). Mereka tidak menyediakan kantong plastik karena sadar bahwa plastik sulit didaur ulang. Coba nonton film-film Amerika yang ada orang belanja di supermaket, pasti belanjaannya dimasukkan ke kantong kertas warna coklat. Meskipun ada yang bilang kantong kertas juga tidak ramah lingkungan. Pasalnya produksi kertas berpotensi menggunduli hutan. Tapi kertas kan bisa didaur ulang?

Sebenarnyalah saya rindu sama ibu-ibu kita jaman dulu yang kalau keranjang belanjake pasar bawa keranjang belanja sendiri. Memang kelihatan tidak praktis dan merepotkan. Tapi ini lebih baik dari pada harus menggunakan kantong plastik.Terus ibu-ibu muda sebelah rumah bilang begini: “Ah, bawa keranjang belanja repot Mas. Saya belanjanya kan pulang kantor, terus mampir ke supermaket, masa keranjangnya ikut ngantor?”

Itulah beda ibu-ibu dulu dengan ibu-ibu sekarang. Serba gak mau repot, maunya yang praktis dan plastik,,, sampai wajahnyapun dipermak pakai plastik,,, “biar awet sepanjang masa” katanya,,, hehehe,,,

Beberapa waktu lalu di area kasir sebuah supermaket saya lihat canvas-grocery-bagtergantung tas kain kanvas yang katanya ramah lingkungan. Tapi saya tidak melihat orang yang berminat untuk membelinya. Entah karena masih tersedia kantong plastik yang gratis atau tas kanvas ini yang harganya kemahalan. Akhirnya tas ini hilang dengan sendirinya dari area kasir. Tapi saya yakin bukan karena laku terjual,,,

Waktu saya ke Kuala Lumpur tahun 2011 (cieee,,,), saya sempat terpana di depan sebuah standing banner di pusat perbelanjaan SOGO Kuala Lumpur. Di situ tertulis “No Plastic Bag On Saturdays” dan di bawahnya “Tiada Beg Plastik Pada Setiap Sabtu”. Artinya, semua pengunjung SOGO itu setiap hari Sabtu akan bawa kantong plastik, tas atau keranjang belanja sendiri. Ketentuan ini katanya menyokong kampanye yang diadakan pemerintah kerajaan Malaysia. Dan saya kira semua pusat perbelanjaan mendukungnya.

Kenapa ini tidak diterapkan di Indonesia?

Jadi, mungkin sebaiknya ada satu hari dalam seminggu seluruh toko retail, toserba, swalayan, supernaket, pusat perbelanjaan diwajibkan tidak menyediakan kantong plastik. Juga tidak menjualnya. Jika sudah terbiasa mungkin bisa dijadikan dua kali seminggu dan seterusnya.

Dengan begitu, masyarakat akan merasa tidak dibebani dengan harus membeli, merasa ikut peduli dan lambat laun akan terbiasa tidak menggunakan kantong plastik lagi.

Bisakah? (ij)

 

Artikel di atas diambil dari RadioSPFM yang dapat dibaca di sini

Bagikan

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza has led Diet Plastik Indonesia, and co-founded it, since 2013. She feels grateful that the environmental law knowledge she learned in college can be used to make changes. In her spare time, Tiza enjoys making doll houses out of cardboard for her children and doing water sports. Tiza is an alumna of the Faculty of Law, University of Indonesia (2002) and Harvard Law School (2010).

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza memimpin Dietplastik Indonesa, dan turut mendirikannya, sejak 2013. Ia merasa bersyukur ilmu hukum lingkungan yang dipelajarinya ketika kuliah dapat digunakan untuk membuat perubahan. Pada waktu senggang, Tiza senang membuat rumah boneka dari kardus untuk anak-anaknya dan melakukan olahraga air. Tiza adalah alumna Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2002) dan Harvard Law School (2010).