Indonesia tengah menghadapi dua krisis yang sering dibahas secara terpisah: krisis pengelolaan sampah dan krisis iklim. Padahal keduanya terhubung langsung melalui satu variabel penting yaitu metana dari tempat pemrosesan akhir (TPA).
Selama ini, isu sampah lebih sering dipahami sebagai persoalan kebersihan kota, estetika lingkungan, atau pencemaran laut. Namun, ketika sampah khususnya sampah organik ditimbun tanpa pengelolaan yang memadai, sampah organik akan berubah menjadi sumber emisi metana (CH₄), gas rumah kaca dengan daya pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Itu artinya, persoalan sampah Indonesia juga termasuk ke dalam persoalan iklim.
Melalui Proyek MERIT (Methane Emissions Reduction Initiative for Transparency), isu ini dibawa oleh Dietplastik Indonesia ke ruang kebijakan regional dalam Regional Policy Dialogue on Methane Emissions Reduction for Climate Action in Asia and the Pacific. Forum yang merupakan bagian dari 13th Asia-Pacific Forum for Sustainable Development (APFSD13) di Bangkok, Tailan. Dalam forum tersebut, Zakiyus Shadicky sebagai Manajer Riset Dietplastik Indonesia sekaligus Project Lead dan Proyek MERIT mempresentasikan pendekatan pengukuran langsung emisi metana di TPA serta simulasi kebijakan pengurangan sampah organik sebagai strategi mitigasi berbasis data.
Dimana Letak Masalah Sebenarnya?
Data SIPSN 2024 menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah per tahun. Hampir 40% di antaranya adalah sampah makanan dan organik. Secara ilmiah, sampah organik yang tertimbun dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen) akan terurai dan menghasilkan metana. Jika tidak ada sistem penangkapan gas (landfill gas capture) atau pengalihan organik sebelum masuk TPA, maka metana akan terlepas langsung ke atmosfer.
Masalahnya bukan hanya besarnya timbulan sampah, tetapi dominasi sampah masih tercampur, praktik open dumping yang masih marak terjadi, minimnya pemilahan di sumber, dan tidak adanya standar pengukuran metana di tingkat TPA.
Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya menghadapi persoalan teknis pengelolaan sampah, tetapi juga persoalan tata kelola data dan pengukuran emisi.
Blind Spot Emisi Metana: Ketika Data Tidak Mencerminkan Realitas
Dalam diskusi panel di forum regional tersebut, salah satu isu yang mengemuka adalah kesenjangan antara komitmen iklim dan kapasitas pengukuran aktual.
Banyak negara, termasuk Indonesia, masih mengandalkan faktor konversi dan estimasi default dalam pelaporan emisi sektor sampah. Padahal kondisi TPA sangat bervariasi seperti komposisi sampah, kadar air, suhu, metode penutupan, hingga pola operasional sangat mempengaruhi produksi emisi metana. Tanpa pengukuran langsung, misalnya menggunakan metode closed flux chamber, angka emisi bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Dietplastik Indonesia melalui Proyek MERIT menekankan bahwa transparansi dan akurasi data adalah fondasi kebijakan. Tanpa sistem MRV (Measurement, Reporting, Verification) yang kuat, sulit menentukan apakah kebijakan pengurangan sampah benar-benar berdampak pada penurunan emisi.
Mengapa Fokus pada Sampah Organik?
Banyak diskusi publik masih berfokus pada plastik. Namun dalam konteks emisi metana, fraksi organik adalah variabel utama. Jika 39% sampah Indonesia adalah sampah makanan, maka strategi pengurangan metana tidak bisa hanya mengandalkan perbaikan TPA. Ia harus dimulai dari:
- Pengurangan timbulan sampah sisa makanan (food waste reduction)
- Pemilahan sampah organik di rumah tangga
- Penguatan sistem komposting dan pengolahan lokal
- Pembatasan pembuangan sampah organik ke TPA.
Simulasi data di TPA Sarimukti jika pengurangan timbulan dan pelarangan pembuangan sampah makanan diterapkan, menunjukkan potensi penurunan emisi metana hingga 70% pada 2030. Angka ini menunjukkan bahwa reformasi sistem di hulu jauh lebih efektif dibanding sekadar memperbaiki kondisi hilir.
Dari Indonesia di Panggung Regional: Mengapa Forum Asia Pasifik Penting?
Keterlibatan Dietplastik Indonesia dalam Regional Policy Dialogue on Methane Emissions Reduction for Climate Action in Asia and the Pacific memperluas isu ini dari konteks nasional menjadi regional. Forum tersebut membahas:
- Harmonisasi metodologi pengukuran metana
- Penguatan MRV sektor sampah.
- Integrasi penurunan metana dalam kebijakan iklim nasional.
- Tantangan implementasi di negara berkembang.
Dietplastik Indonesia membawa perspektif bahwa negara seperti Indonesia memiliki peluang mitigasi besar jika sektor sampah melakukan secara sistemik. Bukan hanya karena volume sampahnya besar, tetapi juga karena struktur pengelolaannya masih bisa diperbaiki secara signifikan.
Dalam diskusi panel, ditekankan bahwa pengurangan metana adalah “low hanging fruit” dalam mitigasi iklim dengan biaya yang relatif lebih rendah dan dampaknya cepat terasa dalam dekade ini. Namun, tanpa integrasi kebijakan persampahan dan kebijakan iklim, peluang tersebut akan terlewat.
Selain itu, Proyek MERIT berupaya membangun fondasi pengukuran dan transparansi metana dari sektor sampah melalui pendekatan bertahap:
- Pengukuran langsung emisi di TPA.
- Analisis komposisi sampah dan DOC (Degradable Organic Carbon)
- Penguatan basis data kota.
- Integrasi hasil pengukuran dengan sistem pelaporan nasional.
Pendekatan ini menjawab dua persoalan sekaligus: kurangnya data teknis di lapagan dan kebutuhan legitimasi kebijakan berbasis bukti. Kehadiran dalam dialog regional memastikan bahwa pembelajaran dari Indonesia tidak berhenti di tingkat nasional, tetapi menjadi bagian dari arsitektur kebijakan kawasan.
Tantangan Struktural yang Harus Diakui
Meski regulasi sudah ada, beberapa hambatan tetap signifikan, di antaranya:
- Belum ada target nasional spesifik penurunan metana sektor sampah.
- Kapasitas teknis pemerintah daerah tidak merata.
- Keterbatasan anggaran untuk pengukuran dan infrastruktur.
- Resistensi politik terhadap reformasi open dumping.
Krisis sampah bukan sekadar isu domestik pengelolaan kota. Ia adalah bagian dari strategi mitigasi iklim regional. Keterlibatan dalam APFSD13 menunjukkan bahwa reformasi sistem pengelolaan sampah, terutama pengurangan fraksi organik dan penguatan sistem pengukuran, dapat menjadi salah satu peluang terbesar penurunan emisi metana di Asia Pasifik.
Melalui Proyek MERIT, Dietplastik Indonesia menegaskan bahwa solusi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Terkadang, yang dibutuhkan adalah transparansi data, reformasi tata kelola, dan keberanian untuk mengubah sistem dari hulu ke hilir.








