Dietplastik Indonesia Luncurkan FIREFLIES, Dorong Perubahan Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Warga

Jakarta, 4 Februari 2026. Di tengah krisis pengelolaan sampah yang masih berlangsung di berbagai wilayah perkotaan, upaya pengurangan sampah dan perbaikan kualitas udara membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan dan teknologi. Diperlukan keterlibatan aktif warga, pendekatan yang sesuai dengan konteks lokal, serta sistem pendukung yang memungkinkan perubahan terjadi secara berkelanjutan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Dietplastik Indonesia, dengan dukungan Yayasan Visi Indonesia Raya Emisi Nol Bersih (ViriyaENB), secara resmi meluncurkan FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions). Proyek ini bertujuan membangun sistem pengawasan dan pelaporan berbasis warga, memperkuat kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya, serta mendorong transformasi norma sosial menuju praktik hidup tanpa pembakaran sampah.

Peluncuran FIREFLIES dilakukan melalui acara Kick-Off FIREFLIES yang digelar di Jakarta, sekaligus menandai dimulainya implementasi program di lapangan. Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan pemerintah daerah, akademisi, hingga perwakilan kelurahan dan RW lokasi percontohan di Jakarta, Depok, dan Bogor. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat dukungan riset, edukasi, dan inovasi sistemik dalam pelaksanaan FIREFLIES.

“Praktik pembakaran sampah terbuka yang terjadi masyarakat berkontribusi 11% pada polusi udara di Jabodetabek. Praktik ini juga berkontribusi menyumbang super pollutants yang berdampak pada isu perubahan iklim. FIREFLIES berangkat dari keyakinan bahwa solusi lingkungan yang efektif harus tumbuh dari akar permasalahannya. Kami melakukan pendekatan pada program ini dengan melihat pengukuran kualitas udara, kajian sosial budaya, dan perbaikan infrastruktur pengelolaan sampah. Proyek ini ingin memperkuat kapasitas warga agar mampu mengelola sampahnya sendiri dengan cara yang tepat, partisipatif, dan berdampak langsung pada kualitas lingkungan.” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia.

Kolaborasi lintas sektor dalam Kick-Off FIREFLIES diharapkan dapat memastikan bahwa intervensi yang dilakukan relevan dengan kondisi lapangan serta selaras dengan arah kebijakan nasional di bidang pengelolaan sampah dan pengendalian pencemaran.

Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH RI menekankan pentingnya inisiatif berbasis masyarakat dalam mendukung agenda pengurangan sampah dan mitigasi perubahan iklim.

“Pengurangan sampah dari sumber dan perubahan praktik di tingkat komunitas merupakan fondasi penting dalam pengelolaan sampah nasional dan upaya penurunan emisi. Program yang melibatkan warga secara aktif seperti FIREFLIES akan memperkuat implementasi kebijakan di lapangan berdasarkan aturan yang sudah ada seperti .” ujar Ibu Nurmayanti, Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Madya Kementerian Lingkungan Hidup

Dalam implementasinya, FIREFLIES dijalankan melalui tiga komponen utama. Pertama, riset sosial-budaya untuk memahami praktik dan tantangan pengelolaan sampah di tingkat lokal. Kedua, program edukasi dan kampanye perubahan perilaku yang kontekstual dan berbasis komunitas. Ketiga, penguatan sistem pendukung, termasuk penyediaan fasilitas pengelolaan sampah dari sumber serta mekanisme pemantauan dan pelaporan partisipatif. Pada tahun pertama, proyek ini difokuskan pada uji coba model di tingkat RW sebagai dasar pengembangan dan replikasi ke wilayah lain.

Dari sisi kesehatan dan lingkungan, para akademisi menegaskan bahwa praktik pengelolaan sampah yang kurang tepat di tingkat komunitas memiliki dampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

“Polusi udara, salah satunya bisa berasal dari pembakaran sampah, memberikan dampak bukan hanya yang dapat dirasakan saat ini, seperti batuk, pilek, atau infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Partikel dalam polusi ini memberikan “deposit” yang menyebabkan kerusakan di jantung, paru-paru, kulit, darah, sampai dengan tulang. Polusi udara, jika terus dibiarkan akan menjadi silent killer. Pengelolaan sampah harus ditangani secara serius agar dapat mengurangi emisi, yang berdampak pada menurunnya potensi polusi udara.” Prof. Dr. R. Budi Haryanto, M.Kes., M.Sc. – Tenaga Ahli Kesehatan Lingkungan 

Sementara itu, dari perspektif iklim, pengurangan sampah dan perbaikan sistem pengelolaannya juga berperan penting dalam menekan emisi berumur pendek yang berdampak signifikan terhadap pemanasan global.

“Super pollutants, seperti black carbon, bisa terjadi dari pembakaran sampah yang dilakukan di pemukiman. Dari super pollutant ini dapat menyebabkan meningkatnya PM 2,5, polutan yang ada di udara, yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Jika kita dapat menurunkan super pollutant dari sumber, salah satunya pembakaran sampah dari pemukiman, dengan intervensi dan pengukuran yang tepat, kita dapat menurunkan emisi super pollutant di tahun 2030 dan memberikan kualitas udara yang lebih sehat.” jelas Dr. Eng. Didin Agustian Permadi, M.Eng. selaku Tenaga Ahli Kualitas Udara FIREFLIES.

Salah satu pendekatan yang dilakukan pada FIREFLIES adalah aspek sosial budaya dari lokasi intervensi program yang akan dilakukan.

“Dalam kehidupan masyarakat, keputusan untuk melakukan perilaku membakar sampah dapat menjadi konsekuensi dari faktor eksternal yang mempengaruhi, seperti ketersediaan infrastruktur, atau seperti keputusan politik di tempat tinggalnya. Jabodetabek menjadi titik penting intervensi program untuk memahami secara menyeluruh sebab akibat dari perilaku membakar sampah. Dalam FIREFLIES, aspek sosial budaya dapat mencakup pemahaman arti sampah di masyarakat, memahami keputusan untuk membakar sampah, sampai dengan memetakan intervensi yang memungkinkan untuk dilakukan di lokasi program.”ungkap Sofyan Ansori, Ph.D – Tenaga Ahli Antropologi FIREFLIES

Melalui FIREFLIES, Dietplastik Indonesia dengan dukungan Viriya ENB menargetkan lahirnya model pengelolaan sampah dengan mendukung peningkatan kualitas udara dari kekuatan komunitas dan dapat direplikasi di kota-kota lain di Indonesia. Tidak hanya itu, pada program ini, FIREFLIES bekerjasama dengan Research Center for Climate Change Universitas Indonesia (RCCC UI) untuk melihat dampak kesehatan dan tim Antropologi Universitas Indonesia (UI) untuk  melihat aspek sosial budaya yang menyempurnakan pendekatan dan intervensi program.

“Kami mendukung proyek FIREFLIES ini agar dapat menjadi wadah diskusikan isu pengelolaan sampah yang terjadi di masyarakat, seperti pembakaran sampah, sehingga terbentuk solusi yang dilakukan dengan pendekatan sosial budaya dan juga pendekatan sains untuk meningkatkan kualitas udara di lingkungan kita.” ujar Ibu Suzanty Sitorus, Direktur Eksekutif Viriya ENB

Kontak Media:

contact@plasticdiet.id

+62811-2441-901

Tentang Proyek FIREFLIES

FIREFLIES (Fostering Innovation, Research, and Engagement for Fire-Free Living through Inclusive Education and Solutions) adalah proyek kolaboratif yang bertujuan memperkuat pengurangan sampah dari sumber, meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah berbasis komunitas, dan berkontribusi pada penurunan emisi di wilayah Jabodetabek melalui riset, edukasi, dan solusi partisipatif.

 

Tentang Dietplastik Indonesia

Dietplastik Indonesia adalah organisasi nirlaba yang mendorong perubahan sistemik untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai, memperluas sistem guna ulang di Indonesia, dan mengadvokasi pengurangan emisi metana dari sektor sampah. Sejak 2013, kami telah memimpin advokasi nasional—mendukung lebih dari 100 kota dalam menerapkan pelarangan plastik—serta membangun solusi inklusif seperti Pasar Bebas Plastik dan Gerakan Guna Ulang. Kami juga mengatasi krisis iklim dan pencemaran dari hulu dengan mendorong pengelolaan sampah organik langsung dari sumbernya—memastikan sampah tidak hanya dikurangi, tetapi juga tidak tercampur dan salah kelola. Misi kami adalah menghentikan polusi plastik dan menurunkan emisi gas rumah kaca dengan mengubah cara sampah diproduksi, dikonsumsi, dan dikelola, sekaligus mendorong perubahan budaya dan struktur—di mana guna ulang menjadi norma, sampah dicegah dari sumbernya, dan komunitas lokal diberdayakan untuk memimpin transisi yang adil menuju masa depan yang lebih bersih dan sehat.

Bagikan

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza has led Diet Plastik Indonesia, and co-founded it, since 2013. She feels grateful that the environmental law knowledge she learned in college can be used to make changes. In her spare time, Tiza enjoys making doll houses out of cardboard for her children and doing water sports. Tiza is an alumna of the Faculty of Law, University of Indonesia (2002) and Harvard Law School (2010).

Tiza Mafira

Executive DirEctor

Tiza memimpin Dietplastik Indonesa, dan turut mendirikannya, sejak 2013. Ia merasa bersyukur ilmu hukum lingkungan yang dipelajarinya ketika kuliah dapat digunakan untuk membuat perubahan. Pada waktu senggang, Tiza senang membuat rumah boneka dari kardus untuk anak-anaknya dan melakukan olahraga air. Tiza adalah alumna Fakultas Hukum Universitas Indonesia (2002) dan Harvard Law School (2010).